sponsor

sponsor

Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

News

Info Bandara

Wisata Alam

Wisata Sejarah

Travel Tips

BANDAR UDARA INTERNASIONAL ADISUTJIPTO, YOGYAKARTA

Triton Tours - Bandar Udara Internasional Adisutjipto adalah bandar udara yang terletak di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bandar udara Adisutjipto awalnya di bangun sebagai pangkalan udara TNI Angkatan Udara. Bandar udara ini dulu dinamakan Maguwo, sesuai dengan nama desa tempatnya berada Maguwoharjo. Pangkalan udara Maguwo dibangun sejak tahun 1940 lalu dipergunakan oleh Militaire Luchtvaart pada tahun 1942.
Bandar Udara Internasional Adisutjipto merupakan bandara kelas I yang difungsikan sebagai bandara pengumpul skala sekunder. Bandara ini dapat didarati oleh pesawat jenis Boeing 737. Maskapai domestik yang masih aktif beroperasi di bandara ini diantaranya adalah Air Asia, Batik Air, Citilink, Garuda Indonesia, Lion Air, NAM Air, Sriwijaya Air, Wings Air dan Xpress Air, sedangkan maskapai internasional yang masih aktif beroperasi adalah Air Asia dan Silk Air.

4D3N AMAZING JOGJA TOUR

3D2N AMAZING JOGJA TOUR

3D2N JOGJA SOLO CLASSIC TOUR

2D1N WONDERFUL JOGJA TOUR

JOGJAKARTA TRAVEL GUIDE

Triton Tours - Kota Yogyakarta adalah ibu kota dan pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kota Yogyakarta adalah kediaman bagi Sultan Hamengkubowono dan Adipati Paku Alam. Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dan kota terbesar ketiga di wilayah Pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung dan Malang.
Salah satu kecamatan di Yogyakarta, yaitu Kotagede pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram antara kurun tahun 1575-1640. Keraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya adalah Keraton Ngayogyakarta dan Puro Paku Alaman yang merupakan pecahan dari Kesultanan Mataram.
Kota Yogyakarta terletak di lembah tiga sungai, yaitu Sungai Winongo, Sungai Code (yang membelah kota dan kebudayaan menjadi dua) dan Sungai Gajahwong. Kota ini terletak pada jarak 600 KM dari Jakarta, 116 KM dari Semarang dan 65 KM dari Surakarta pada jalur persimpangan Bandung - Semarang - Surabaya - Pacitan. Kota ini memiliki ketinggian sekitar 112 mdpl. Meski terletak di lembah, kota ini jarang mengalami banjir karena sistem drainase yang tertata rapi yang dibangun oleh pemerintah kolonial ditambah dengan giatnya penambahan saluran air yang dikerjakan oleh Pemkot Yogyakarta.
Kota Yogyakarta dapat diakses dengan menggunakan jalur transportasi darat dan jalur transportasi udara. Jalur transportasi darat dengan menggunakan Kereta Api dan BUS. Transportasi menggunakan kereta api dari Jakarta, Bandung, Surabaya atau Malang, pemberangkatan dan kedatangan kereta api (KA) kelas eksekutif dan bisnis dilayani di Stasiun Yogyakarta atau juga dikenal sebagai Stasiun Tugu sedangkan kereta api kelas ekonomi dilayani di Stasiun Lempuyangan. Ada pula kereta api komuter cepat yang menghubungkan Kutoarjo dengan Surakarta melewati stasiun Lempuyangan, kereta tersebut bernama Prameks. Transportasi dengan BUS bisa dengan menggunakan Bus AKAP yang tersedia dari dan ke semua kota di Pulau Jawa, datang dan berangkat dari Terminal Penumpang Yogyakarta yang berada di Giwangan. Terminal lain yang lebih kecil seperti Terminal Jombor melayani antara lain rute Magelang dan Semarang dan Terminal Condong Catur ke arah Kaliurang.
Jalur transportasi udara dari dan ke Yogyakarta dilayani oleh Bandara Internasional Adisutjipto, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Bandara ini melayani penerbang domestik ke kota-kota besar di Pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya), Sumatera (Batam), Bali, Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, dan Balikpapan) dan Sulawesi (Makassar).
Selain itu, bandara ini juga melayani penerbangan harian ke Singapura dan Kuala Lumpur dengan Malaysia Airlines dan Singapore Airlines.

(Sumber: Wikipedia)
Nama Yogyakarta terambil dari dua kata, yaitu Ayogya atau Ayodhya yang berarti "kedamaian" dan Karta yang berarti "baik". Ayodhya merupakan kota yang bersejarah di India di mana wiracarita Ramayana terjadi. Tapak keraton Yogyakarta sendiri menurut babad (misalnya Babad Giyanti) dan leluri (riwayat oral) telah berupa sebuah dalem yang bernama Dalem Gerjiwati; lalu dinamakan ulang oleh Sunan Pakubuwana II sebagai Dalem Ayogya.
Yogyakarta mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang tangible (fisik) maupun yang intangible (non fisik). Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar budaya, dan benda cagar budaya sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat.
Yogyakarta memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut dengan Kraton sebagai institusi warisan Adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya dan beradat tradisi.
Agama Islam merupakan agama mayoritas yang dianut masyarakat Yogyakarta, sedangkan jumlah penganut Kristen dan Katolik relatif signifikan. Seperti kebanyakan dari Islam kebanyakan di kota-kota pedalaman Jawa, mayoritas di Yogyakarta masih mempertahankan tradisi Kejawen yang cukup kuat.
Yogyakarta juga menjadi tempat lahirnya salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Hingga saat ini, Pengurus Pusat Muhammadiyah masih tetap berkantor pusat di Yogyakarta.
(Sumber: Wikipedia)

7 Wisata Candi Eksotis Di Yogyakarta

Yogyakarta sangat terkenal sebagai "Kota Pelajar" tapi siapa sangka Yogyakarta juga merupakan kota wisata. Banyak daerah tujuan wisata di Yogyakarta, mulai dari wisata alam, sejarah, budaya, belanja hingga kulinernya. Pada kesempatan ini Triton Tours akan membahas sedikit dari sisi wisata sejarahnya yaitu wisata candi. Let's go!!!

1. Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan merupakan kompleks stupa terbesar di dunia yang telah diakui secara resmi oleh UNESCO. Kata "Borobudur" memiliki arti sebuah gunung yang berteras-teras. Bangunan Candi ini memiliki 10 tingkat punden berundak yang melambangkan tingkat kehidupan manusia. Setiap tingkatan memiliki relief indah yang akan terbaca secara teratur jika berjalan searah dengan arah jarum jam. Candi Borobudur memiliki 1460 relief dan 504 stupa.

2. Candi Prambanan
Jika Anda pernah mendengar tentang kisah seorang raja yang sakti mandraguna Bandung Bondowoso yang akan menikahi Roro Jongrang, maka nama Candi Prambanan tidak akan terdengar asing lagi. Candi Prambanan terletak +/-17Km arah Timur dari pusat Kota Yogyakarta. Candi ini memiliki tinggi 47m yang disekelilingnya terdapat berbagai arca dan candi lainnya. Candi Prambanan merupakan mahakarya  yang sangat sayang untuk dilewatkan jika Anda berkunjung ke YogyakartaSaat terjadi bencana pada tahun 2006 silam, candi ini sempat rusak namun telah direnovasi kembali. 

3. Candi Pawon
Candi Pawon terletak di desa Wanurejo, 1.150m ke arah Barat dari Candi Mendut atau sekitar 1.750m ke arah Timur dari Candi Borobudur. Candi ini terletak tepat di sumbu garis yang menghubungkan antara Candi Borobudur dan Candi Mendut. Ketiga candi ini diduga memiliki keterkaitan yang kuat satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian, candi ini digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata oleh Raja Indera atau Vajranala. Dalam bahasa sansekerta kata "Vajra" berarti halilintar sedangkan "Anala" berarti api. Candi Pawon merupakan candi yang seni bangunannya kental dengan perpaduan budaya Hindu, Jawa Kuno dan India.

4. Candi Mendut
Candi Mendut merupakan candi yang terletak paling Timur dari garis lurus tiga serangkai candi (Borobudur, Pawon dan Mendut). Candi ini memiliki luas keseluruhan 13,7 meter persegi dan tinggi mencapai 26,4 meter. Pada bagian atas candi terdapat 48 buah stupa, dikarenakan puncak candi sudah tak tersisa sehingga sulit mengetahui bentuk asli candi. Candi ini didirikan oleh Raja Indera dan merupakan candi yang dibangun sebelum Candi Borobudur didirikan oleh Raja Samaratungga. Candi ini digunakan sebagai perayaan saat datangnya hari raya Waisak bagi umat Buddha.

5. Candi Plaosan
Candi Plaosan terdiri dari dua kompleks candi yaitu kompleks Candi Plaosan Lor dan kompleks Candi Plaosan Kidul. Candi ini didirikan pada masa pemerintahan Rakai Pikatan pada awal abad ke 9M dari kerajaan Mataram Hindu. Cerita menariknya, candi ini didirikan sebagai simbol kekuatan cinta antara Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani. Sebagian masyarakat meyakini, bahwa pasangan yang berkunjung ke Candi Plaosan akan diberkahi cintanya. Berdasarkan keyakinan tersebut, banyak pasangan suami istri yang rela datang dari berbagai tempat untuk mengharapkan keberkahan cinta. 

6. Candi Ijo
Candi Ijo didirikan pada abad ke 9 disebuah bukit yang bernama Bukit Ijo. Candi Ijo terletak diatas ketinggian 410 mdpl dan merupakan candi tertinggi diantara candi lainnya di Yogyakarta. Candi inilah alasan mengapa Bandara Adisucipto Yogyakarta tidak bisa diperpanjang ke ara Timur. Candi Ijo memiliki 17 kompleks percandian yang struktur bangunannya terbagi ke dalam 11 teras. Teras pertama hingga kesebelas merupakan teras berundak yang membujur dari arah Barat ke Timur. Teras terakhir dari Candi ini adalah wilayah yang dianggap paling sakral, dimana terdapat sebuah candi utama dan tiga candi perwara.

7. Candi Sambisari
Candi Sambisari memiliki tinggi 7,5 meter, hal yang membuat candi ini unik yaitu 6,5 meter dari total ketinggian candi berada di bawah permukaan tanah. Kuat dugaan bahwa candi ini terkubur saat terjadinya letusan Gn. Merapi pada tahun 1006M. Candi Sambisari adalah peninggalan masa kejayaan Hindu di Tanah Jawa yang diperkirakan dibangun antara tahun 812M - 838M. Candi ini ditemukan pertama kali oleh seorang petani yang bernama Karyoniangun pada tahun 1966 saat sedang mencangkul diladang miliknya. Kompleks candi ini memiliki satu candi utama dan 3 buah candi pendamping.